Revitalisasi Jembatan Besi Tenggarong, Bupati Kukar Janji Prioritaskan Nilai Sejarah

image

Kutai Kartanegara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) mengumumkan rencana revitalisasi jembatan sebagai bagian dari upaya meningkatkan infrastruktur kota yang lebih adaptif terhadap mobilitas masa kini, dalam pembangunannya, menghadapi tantangan besar dalam menyelaraskan infrastruktur pembangunan dengan pelestarian warisan sejarah. Jembatan Besi Tenggarong yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kota, yang berdiri sejak era 1930-an, kini memasuki fase revitalisasi yang serius. Proyek ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan infrastruktur tetapi juga untuk memastikan nilai sejarah jembatan ini tetap terjaga.

Bupati Kukar, Edi Damansyah, menegaskan bahwa revitalisasi ini bukan sekadar pembongkaran dan pembangunan baru. Pemkab berkomitmen untuk menjaga unsur-unsur sejarah Jembatan Besi agar tetap hidup dalam ingatan masyarakat. Dalam proyek ini, berbagai langkah akan diambil untuk mengabadikan aspek-aspek penting dari jembatan, termasuk penggunaan bahan-bahan dan desain yang mencerminkan karakter aslinya.

“Jembatan Besi bukan sekadar konstruksi baja. Ia adalah saksi perjalanan sejarah kota ini. Maka dari itu, meski kami membongkarnya, elemen sejarahnya akan tetap kami rawat dan tampilkan kembali dalam bentuk yang lebih relevan,” terangnya, pada Minggu (13/4/25).

Jembatan ini dulunya menjadi simpul utama konektivitas antara Kelurahan Panji dan Melayu, serta menjadi saksi perjalanan sosial, ekonomi, hingga momen-momen kebudayaan di Tenggarong. Karena itu, Pemkab menyiapkan desain pengganti yang tidak hanya fungsional, tetapi tetap membawa nuansa arsitektur klasik khas era kolonial.

Beberapa bagian dari struktur jembatan lama yang masih kokoh akan dipertahankan sebagai bagian dari kawasan monumen atau instalasi dekoratif di sekitar lokasi baru. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga keterikatan emosional masyarakat terhadap jembatan yang telah menjadi ikon kota selama hampir satu abad.

“Pembangunan tidak boleh menghapus ingatan kolektif masyarakat. Justru lewat revitalisasi inilah kita bisa menjaga sejarah agar tetap hidup dan dapat dinikmati generasi selanjutnya,” tegas Edi.

Lebih dari sekadar proyek fisik, revitalisasi ini juga merupakan bagian dari penataan kawasan heritage Tenggarong, yang kini makin diperkuat dengan pengembangan ruang budaya di sekitar Masjid Agung, Monumen Pancasila, dan Gedung Wanita.

Pemkab juga memastikan bahwa pelaksanaan proyek ini berlangsung secara terbuka dan responsif terhadap dinamika sosial warga. Sosialisasi terus digencarkan agar masyarakat memahami bahwa pembangunan ini bukan penghapusan memori, melainkan proses merawatnya dalam bentuk baru yang relevan.

“Ini bukan akhir dari cerita Jembatan Besi. Justru ini awal baru untuk menjadikannya bagian yang lebih kuat dari identitas Kota Tenggarong,” pungkasnya. (adv/diskom/aw)

Peringatan Plagiarisme
Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga 4 Miliyar.
  • Tags:

0 Comments:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *