Samarinda – Kontingen Kaltim hanya mampu finis di posisi ke-8 pada klasemen akhir Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI yang digelar di Aceh-Sumatera Utara.
Hasil ini diakui belum memenuhi target lima besar yang dicanangkan sebelumnya. Meski begitu, capaian Kaltim sebenarnya tidak sepenuhnya buruk, karena perolehan medali mengalami peningkatan sekitar 30 persen dibandingkan PON Papua 2021 lalu.
Menurut Ego Arifin, Wakil Ketua I KONI Kaltim, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi para atlet Kaltim adalah soal mentalitas.
Ego menyoroti, beberapa atlet kerap merasa minder saat berhadapan dengan lawan yang memiliki status juara nasional.
"Ketika bertemu lawan kuat atau tuan rumah, beberapa atlet kita memang langsung merasa kurang percaya diri," kata Ego.
Kondisi ini disebut Ego membuat Kaltim sering kali hanya mampu membawa pulang medali perak, alih-alih emas.
"Banyak yang berada di masa peralihan dari junior ke senior, jadi mental bertandingnya belum stabil," jelasnya.
Namun, ada upaya yang menunjukkan hasil positif. Ego memberi contoh dari cabang olahraga kurash. Pada hari pertama, dua atlet kurash Kaltim mengalami kekalahan dan terlihat down. Sang pelatih segera berinisiatif meminta bantuan tim psikolog KONI Kaltim untuk mendampingi atlet.
"Setelah dapat pendampingan psikologis, para atlet tampil lebih percaya diri, dan di hari berikutnya tiga atlet putri bisa membawa pulang 1 emas dan 2 perak," tambah Ego.
Kendala lain yang dihadapi para atlet Kaltim adalah faktor nonteknis di lapangan. Beberapa atlet yang bertanding di venue outdoor merasa tidak punya waktu adaptasi yang cukup.
Selain itu, ada pula kekhawatiran soal ancaman megatrust yang berpotensi memicu tsunami di wilayah Aceh, ditambah adanya perubahan regulasi yang cukup mendadak.
Ego menyebut, sejumlah evaluasi akan dilakukan ke depan untuk memperbaiki kekurangan ini.
"Kami sudah mencatat semua masukan dari para pelatih dan atlet untuk mempersiapkan strategi yang lebih baik ke depannya," tutup Ego.
Hal yang disampaikan Wakil Ketua I KONI Kaltim, Ego Arifin tersebut, sejalan dengan program yang dijalankan Dispora Kaltim. Yakni pembinaan berkelanjutan.
“Pembinaan saat ini harus betul-betul fokus pada cabang olahraga yang memiliki riwayat prestasi lebih banyak,” ujar Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga (PPO), Dispora Kaltim, Rasman Rading, dalam sebuah wawancara. (*)
0 Comments:
Leave a Reply