Samarinda - Isu degradasi lingkungan dan kualitas tanah kini menjadi perhatian serius karena memiliki korelasi langsung dan kuat dengan peningkatan derajat kesehatan masyarakat, termasuk upaya pencegahan masalah gizi spesifik seperti stunting.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur secara tegas mengingatkan bahwa menjaga kesehatan tanah merupakan fondasi krusial bagi ketahanan pangan dan keseimbangan ekosistem daerah.
Penegasan ini disampaikan oleh Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, dalam Diskusi Publik Nasional bertajuk “Menjaga Tanah dan Air untuk Kehidupan Masa Depan” yang diselenggarakan di Samarinda.
Dr. Jaya, yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad) wilayah Kaltim, menyoroti dimensi kesehatan dari isu lingkungan.
”Tanah yang sehat penting untuk mencegah masalah sosial, lingkungan, bencana, hingga masalah kesehatan spesifik seperti potensi penurunan angka stunting,” kata Jaya Mualimin (5/12/2025).
Menurutnya, kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari sanitasi lingkungan yang sangat bergantung pada kondisi tanah dan ketersediaan air bersih.
Kedua elemen ini memiliki hubungan simbiotik, di mana tanah berfungsi esensial sebagai penyaring alami dan penyimpan cadangan air.
“Ketika fungsi penyaringan dan penyimpanan tanah terganggu, risiko pencemaran air bersih dan sanitasi otomatis meningkat, yang secara langsung berdampak pada kesehatan publik.
Pihak Dinkes Kaltim menyoroti tantangan global seperti perubahan iklim dan alih fungsi lahan masif yang kini mempercepat degradasi kualitas tanah di Kaltim.
Tekanan terhadap lahan yang semakin meningkat akibat pertumbuhan penduduk sering kali mengabaikan daya dukung lingkungan setempat, membawa risiko besar terhadap ekosistem.
Jaya menjelaskan, ketidakseimbangan ekosistem ini mengakibatkan berbagai masalah fisik, termasuk erosi lapisan tanah atas yang sangat subur, penurunan kesuburan tanah secara drastis, hingga pemicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan kekeringan.
“Semua faktor ini pada akhirnya mengancam ketersediaan dan kualitas pangan,” ucap Dr. Jaya
Mengutip data dari Food and Agriculture Organization (FAO), Jaya menyebutkan bahwa lebih dari 95 persen pangan manusia berasal dari tanah.
Oleh karena itu, kelestarian tanah bukan lagi sekadar isu lingkungan semata, melainkan fondasi utama bagi ketahanan pangan daerah.
“Tanah yang tidak subur akan menghasilkan pangan dengan kualitas gizi yang rendah, dan hal ini berpotensi memperburuk masalah kekurangan gizi pada anak-anak,” jelas Dr. Jaya.
Momentum Hari Tanah Sedunia yang jatuh pada 5 Desember harus dimanfaatkan sebagai panggilan bertindak untuk merefleksikan kembali hubungan manusia dengan alam.
Diperlukan sinergi dan kolaborasi yang kuat dari berbagai sektor, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga masyarakat sipil, untuk merumuskan strategi tata kelola agraria yang berwawasan ekologis dan berkelanjutan.
“Kolaborasi ini penting agar warisan ekologis bagi generasi mendatang tidak berupa kerusakan lahan yang membebani kehidupan,” tutup Jaya.
Untuk itu, dirinya menegaskan bahwa menjaga tanah hari ini adalah investasi untuk kesehatan dan ketahanan pangan generasi Kaltim di masa depan.
Diskusi publik yang strategis ini terselenggara atas kerja sama yang erat antara IKA Unpad Kaltim, Universitas Mulawarman, dan Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI) wilayah Kaltim dan Kaltara, menunjukkan komitmen lintas sektor terhadap isu lingkungan dan kesehatan.
0 Comments:
Leave a Reply