Kutai Kartanegara – Upaya regenerasi petani terus digalakkan Pemerintah Desa Segihan, Kecamatan Sebulu, dengan membentuk kelompok petani milenial. Inisiatif ini tidak hanya difokuskan pada peningkatan produktivitas pertanian dan perikanan, tetapi juga menyiapkan generasi muda untuk menjadi agen pembelajaran di tengah masyarakat.
Kepala Desa Segihan, Hendra Wahyudi, menyampaikan bahwa para petani milenial yang ada saat ini difokuskan pada budidaya perikanan menggunakan sistem bioflok. Sistem ini dinilai lebih efisien dan cocok diterapkan dalam skala rumah tangga.
“Berbeda dari tempat lain, kami membentuk kelompok petani milenial dengan misi menjadi mentor bagi warga. Mereka belajar sistem bioflok secara intensif, lalu kami tugaskan untuk mendampingi masyarakat,” jelas Hendra, Jumat (9/5/25).
Program yang telah berjalan selama dua tahun tersebut kini mulai menunjukkan hasil. Pemerintah desa menargetkan implementasi model “satu rumah satu bioflok” sebagai strategi ketahanan pangan lokal.
Tak hanya di sektor perikanan, pendekatan serupa juga dikembangkan di bidang pertanian, khususnya budidaya jambu kristal. Desa Segihan telah menetapkan satu RT sebagai wilayah percontohan untuk konsep “satu rumah satu pohon jambu” yang ditanam menggunakan metode polybag.
“Tahun ini kami menargetkan seluruh 11 RT di Desa Segihan dapat menerapkan budidaya jambu kristal dengan pola yang sama,” tambah Hendra.
Saat ini, terdapat 12 petani milenial yang aktif menjalankan program ini. Meski jumlahnya belum banyak, Hendra optimistis kelompok ini akan terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.
“Semangat belajar dan kemauan mereka tinggi. Kami berharap lebih banyak anak muda tertarik bergabung, agar semakin banyak warga yang merasakan manfaat dari program regenerasi petani ini,” tandasnya. (adv/diskom/aw)
0 Comments:
Leave a Reply